PAHLAWAN SEJATI Oleh: Gita Sania


Sosok manusia yang sangat kucintai di dunia ini adalah kedua orang tuaku. Beliau berdua adalah pahlawanku. Dua sosok manusia yang begitu tabah, tangguh, pekerja keras, dan tak mudah putus asa. Sosok yang begitu berarti dalam hidupku. Tak ada yang bisa menandinginya. Beliau berdua adalah inspirator utamaku dalam segala hal. Ayahku bernama Ahlan, dan ibuku bernama Isap.

Keduanya mengajarkan tentang segala sesuatu. Mengajarkan arti penting kehidupan ini. Mengajarkan akan pentingnya kerja keras. Mengajarkan agar tak mudah menyerah. Mengajarkan agar selalu mengingat-Nya. Itulah beliau, sosok yang selalu kurindukan setiap kehadirannya. Mereka mengajari aku dan kakakku tanpa mengenal lelah.

Ayahku hanyalah seorang pedagang. Hanya tamatan SD. Hidup dalam kesederhanaan. Kesehariannya hanyalah berdagang, Pergi mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga, istri dan anak-anaknya. Tak pernah aku melihatnya mengeluh apalagi sampai bermalas-malasan. Bahkan, sakit pun beliau tak pernah rasakan. Beliau sanggup menahan itu semua demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.

Ayahku bukanlah seorang ustadz atau ahli agama, tetapi beliau mampu mengajarkan kami bagaimana caranya agar kami bisa selalu mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Beliaulah yang mengajarkanku untuk selalu bekerja keras. Beliau mengajarkanku agar terus berjuang menggapai mimpi dan tak mudah menyerah. Beliau mengajarkanku agar jangan sampai lari dari masalah, sesulit apa pun itu masalahnya.

Ibuku tak kalah hebatnya juga di samping membantu sang ayahku berdagang dan kerja sebagai ibu rumah tangga,  Mencoba mengumpulkan uang perbulannya demi menyekolahkan kami selaku anak-anaknya. Belum lagi tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu yang begitu banyak. Seperti, mencoba memberikan nasihat dan teladan kepada kami selaku anak-anaknya untuk terus belajar dan mengingat Tuhan.

Sungguh pengorbanan yang tak bisa aku gambarkan secara sempurna dengan kata-kata. Aku sangat bersyukur dan bahagia punya seorang ibu seperti beliau. Tentu, rasa cintalah yang menggerakkan itu semua. Aku sendiri banyak sekali belajar arti dan makna sebuah pengorbanan dan cinta dari ibuku sendiri. Itulah mengapa aku katakan, bahwa orang tuaku adalah pahlawanku.

Hari demi hari, baik ibu maupun ayahku terus mengumpulkan uang. Sama sekali tak ada kata mengeluh. Yang ada di pikiran beliau berdua, bagaimana agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Persoalan finansial bagi beliau berdua bukanlah sesuatu hal yang susah didapat, asalkan kami selaku anak-anaknya tetap mau menuntut ilmu.

Suatu waktu beliau mengatakan kepada kami, cukuplah ayah dan ibumu ini yang hanya lulusan SD, kalian harus bisa lebih dari kami. Kalian harus menuntut ilmu sampai ke perguruan tinggi. Oleh karena itu, tugas kalian adalah belajar, belajar, dan belajar. Itulah pinta beliau berdua kepada kami suatu waktu. Sungguh mulia. Kini, aku pun bisa melanjutkan keperguruan tinggi ini semua berkat dukungan dan berbagai motivasi dari orang tuaku. Restu dari beliau berdua terus kupinta, agar apa yang kulakukan selalu mendapatkan ridho dari Sang Ilahi. Doa demi doa pun beliau panjatkan agar kami anaknya terus diberkahi atas apa yang kami usaha dan kerjakan. Beliau berdua selalu mendukung setiap langkah kami. Apa pun itu, semasih dalam hal kebaikan dan demi kebaikan. Beliau berdua merupakan pahlawanku yang sesungguhnya, sang inspiratorku.

Leave a Reply