CITA-CITA BUKAN HANYA SEKEDAR MIMPI

من جدّ و جد
“Man Jadda Wa Jada”

by: Nusantari Fitriani, S. Pd. I, M. Pd (Dosen Institut Agama Islam Sukabumi)

nusantari.fitriani@gmail.com

Pagi, siang, sore, malam dan kembali pagi lagi, itulah perputaran waktu disepanjang hari yg takkan berakhir sampai akhir itu datang pada saat yg telah diatur oleh sang Maha Kuasa.

Tiada pernah makhluq dimuka bumi ini sedikitpun terlepas dari rintangan, cobaan, baik itu dalam cobaan yg menyenangkan atau pun cobaan yg sangat menyedihkan. Namun wajib bagi diri untuk selalu Ridlo akan Qodlo’ dan Qodar Alloh Ta’alaa sebab ianya merupakan salah satu rukun Iman yg wajib diketahui oleh setiap Muslim Muslimaat sekalian.

Terkadang saat gundah akan dunia yg fana ini, ada sebuah doktrin positif yg dapat di cerna oleh hati dan fikiran. Semua itu, karena diri tetap yaqin terhadap janji2 Alloh SWT insya Alloh jika telah saatnya ianya akan dapat diketahui dengan sebenar-benarnya.

Pelajaran hari ini:

“Tetap tanamkan “HUSNUDHON” tanpa “SU’UDHON”, karena penyakit ‘AIN (penyakit hati)itu lebih berbahaya daripada penyakit “HIV” namun wajib prihatin, bersabar dan berdo’a insya Alloh ada jalan dan barokah. Sholluu ‘alan Nabiy, Laa haula walaa quwwata illaa billaah. . .”

Sebagai seorang hamba yang bertaqwa hendaklah senantiasa berprasangka baik terhadap sang Kholiq. Jangan pernah merasa semua akan berakhir sia-sia dan tak ada gunanya, ahsan kita segera memperbanyak beristighfar kepada Alloh Ta’alaa. Astaghfirulloohal ‘adhiim…

Jika didalam diri kita telah memiliki keyaqinan yang kuat atau “Haqqul Yaqin” in sya Alloh apapun yang akan terjadi dan berusaha menghalangi diri untuk mencapai pada sebuah impian mampu kita hadapi dengan jiwa yang stronger dan tak mudah putus asa. Terlebih-lebih lagi bagi seorang pelajar yang memiliki cita-cita yang sangat tinggi nan luhur, bahkan hal tersebut memang dianjurkan bagi seorang pelajar dalam bertholabul ‘ilmi. Jadi, dapat diketahui hendak dibawa kemanakah dirinya setelah usai meninggalkan bangku sekolah?, nah…hal tersebutlah yang mulai detik ini harus difikirkan dengan matang dan segera membuat program kedepan untuk kemajuan dirinya dimasa depan.

فانّ المرء يطير بهمّته كالطير يطير بجناحيه

“sesungguhnya seseorang akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan dua sayapnya”.

Abu Thayyib berkata (A. Ma’ruf Asrori: 53)[1] berkata:

“cita-cita akan tercapai sejauh orang-orang akan bercita-cita. Kemuliaan akan tercapai sejauh seseorang berbuat mulia”

“Sesuatu yang kecil akan tampak besar bagi orang-orang yang bercita-cita kecil. Dan sesuatu yang besar akan tampak kecil bagi orang-orang yang bercita-cita besar”.

Modal untuk mencapai segala sesuatu adalah kerja keras dan cita-cita luhur.

Diuangkapkan pula, bahwa Abu Hanifah pernah berkata kepada Abu Yusuf (A. Ma’ruf Asrori: 54):

“kamu bukanlah orang yang cerdas, tetapi kamu bisa mengatasinya dengan rajin belajar. Hindarilah kemalasan, karena kemalasan adalah sesuatu yang buruk dan akibat buruknya juga sangat besar”.

Salah satu efek buruk bagi orang yang pemalas adalah penyesalan dikemudian hari dan cita-cita yang tak terwujud. Ada ungkapan, bahwa rasa malas itu disebabkan oleh kurangnya penghayatan terhadap keutamaan dan kelebihan ilmu.

Rasa malas kadang-kadang ditimbulkan oleh dahak dan lemak di dalam tubuh yang disebabkan karena banyak makan. Dahak disebabkan oleh banyaknya minum, banyak minum disebabkan oleh banyaknya makan. Makan roti kering dan anggur kering dapat menghilangkan dahak (lendir). Tetapi jangan terlalu banyak, sehingga akan membutuhkan minum, sementara banyak minum akan dapat menambah dahak. Jadi, makan dan minumlah sesuai yang diperlukan oleh tubuh saja agar mampu meminimalisir dahak didalam tubuh.

Cara lain mengurangi makan adalah merenungkan bahaya-bahaya yang timbul akibat banyak makan, yaitu beberapa penyakit dan lemahnya fisik. Juga disebutkan timbul kekenyangan yang mampu menghilangkan kecerdasan.

Itulah sekilas mengenai efek yang ditimbulkan akibat terlalu berlebihan-lebihan dalam makan dan minum. Bukankah kita dianjurkan membagi ruang dalam tubuh kita, yakni sepertiga untuk makan, sepertiga lagi untuk minum dan sepertiga selanjutnya untuk bernafas agar pencernaan didalam tubuh dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar sehingga kita pun akan beruntung terhindar dari rasa malas yang tidak berkesudahan itu.

Ternyata dalam meraih cita-cita yang bukan hanya sekedar mimpi belaka itu tidak lain harus diperhatikan dari hal-hal yang mungkin dianggap remeh dan seolah-olah kecil, namun imbas yang didapat begitu merugikan diri sendiri yang salah satunya adalah banyak makan yang mengakibatkan diri lemah dan bermalas-malasan. Untuk itu, jika ingin meraih cita-cita yang bukan hanya sekedar mimpi tersebut hendaknya lebih berantusias menggapainya, open mind, open heart, open eyes and open kesemua-muanya dalam artian yang positif. Hal tersebut, diharapkan dapat memberikan stimulus dari dalam diri kita agar membangun kesadaran diri untuk segera meraih kesuksesan, baik kesuksesan duniawi maupun kesuksesan ukhrowi yang pada ujung goalnya ialah “bihusnil khotimahin sya Alloh, Alloohumma Aamiin wal qobul…

Selalu ingat 3B untuk meraih cita-cita:

  1. Berikhtiyar (berusaha dengan sungguh-sungguh)
  2. Berdo’a kepada Alloh Ta’alaa agar selalu diberikan jalan kemudahan
  3. Bertawakkal kepada Alloh atas segala Ikhtiyar dan do’a yang telah dilaksanakan dengan tulus.

Moto yang tak lekang oleh waktu “Man Jadda wa Jada” barangsiapa yang besungguh-sungguh pasti akan sukses. Teruslah semangat meraih Rohmat tanpa terpikat oleh ni’mat yang hanya sesaat yaitu “HUBBUD DUNYA” (cinta pada dunia). Akhirul kalam wa ‘afwu minkum.


[1] Etika Belajar Bagi Penuntut Ilmu (Terjemahan Ta’limul Muta’allim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *