Klasifikasi Ilmu Pengetahuan dalam Islam Oleh: Zaky Mumtaz Ali., Lc., S.S.I., MA (Dosen Institut Agama Islam Sukabumi)

Pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya Ilmu pengetahuan diklasifikasikan atau dipetakan dalam Islam adalah sebuah pertanyaan yg patut kita cari tahu jawabannya. Hal ini penting untuk kita ketahui agar kita semakin menyadari betapa luas dan kayanya khazanah ilmu pengetahuan Islam, dan lebih penting lagi setelah kita pahami pemetaan tersebut kita bisa menentukan skala prioritas manakah ilmu yang harus kita dahulukan untuk pelajari dan kuasai. Ibarat seseorang yang berkewarganegaraan Indonesia, sudah semestinya ia tahu tentang peta letak dan seluk beluk negaranya sendiri. Hal ini penting agar ia sadar betapa luas dan kaya negerinya, ia paham posisinya berada di titik mana, dan yang lebih penting lagi agar ia tidak kehilangan arah ketika berpetualang di negerinya sendiri.

Pada dasarnya Islam adalah agama yang sangat memperhatikan Ilmu pengetahuan, bahkan tidak berlebihan jika kita katakan bahwa Islam adalah agama Ilmu pengetahuan. Hal ini nampak jelas dari banyak fakta sejarah dan dalil agama yang mengindikasikan pentingnya ilmu pengetahuan dalam Islam. Misalkan saja kita temukan dalam surat al-Mujadilah ayat 11, dijelaskan di sana bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang-orang yang berilmu daripada orang yang tidak berilmu, sehingga dengan itu nampak sekali perbedaan antara keduanya (surat az-Zumar ayat 9). Belum lagi banyak sekali hadis Nabi Muhammad SAW yang juga sangat menekankan pentingnya penguasaan umatnya atas ilmu pengetahuan.

Atas dasar itulah tidak heran jika ulama-ulama kita dahulu mempunyai perhatian yang sangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Mereka sangat produktif dalam membuat konsep, menelaah, hingga mereka bisa menuangkan karya ilmiahnya dalam bentuk kitab-kitab yang sangat banyak, bahkan tidak jarang dari mereka yang mewakafkan sepenuh hidupnya di jalan ilmu pengetahuan hingga secara turun temurun karya-karyanya bisa kita nikmati hingga kini.

Menariknya, tidak terbatas hanya pada ilmu-ilmu syariah seperti ilmu seputar al-Qur’an dan sunnah, para ulama dahulu tidak mengesampingkan ilmu-ilmu non-syariah seperti halnya ilmu-ilmu astronomi, kedokteran, dan lain sebagainya. Nama-nama besar ulama muslim juga harum di kancah ilmu-ilmu non-syariah seperti halnya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Khawarizmi dan lain sebagainya, bahkan sampai dunia barat pun mengakuinya.

Kesimpulannya bahwa memang betul ada klasifikasi atau dualisme antara ilmu syariah dan ilmu non-syariah dalam Islam, akan tetapi klasifikasi ini hanya berhubungan dengan karakteristik kedua macam ilmu tersebut yang memang berbeda. Al-Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa Ilmu Syariah adalah ‘’ilmu yang bersumber dari para nabi (wahyu)’’, sedangkan ilmu non-syariah adalah ‘’ilmu yang berdasarkan pada akal manusia seperti matematika, eksperimen seperti ilmu kedokteran, dan pendengaran seperti ilmu bahasa’’.

Klasifikasi ini sama sekali tidak berimplikasi pada perlakuan yang berbeda terhadap keduanya dengan misalnya Islam cenderung menganggap rendah atau tinggi satu Ilmu dari pada lainnya. Kedua ilmu tersebut pada dasarnya sama-sama bersumber dari Allah swt dan keduanya merupakan ilmu yang jika dipelajari akan mengangkat derajat pelajarnya. Oleh karena itu tidak dibenarkan jika ada anggapan bahwa teman-teman kita yang belajar ilmu non-syariah tidak lebih mulia dari pada teman-teman kita yang belajar ilmu syariah di pesantren atau fakultas agama, dan ini berlaku sebaliknya. 

Kedua macam ilmu tersebut tidak bertentangan sama sekali, melainkan keduanya merupakan sinergi yang saling melengkapi untuk mencapai kemaslahatan duniawi dan ukhrawi. 

Hanya saja, yang perlu kita perhatikan lebih dalam di sini adalah bagaimana kita menentukan skala prioritas ilmu manakah yang harus kita dahulukan untuk dipelajari dari pada ilmu lainnya. Hal ini karena mustahil di hidup kita yang singkat ini dan dengan kemampuan kita yang terbatas kita bisa menguasai ilmu pengetahuan secara keseluruhan.

Dalam hal ini, al-Imam al-Ghazali selain mengklasifikasi ilmu ke dalam syariah dan non-syariah, beliau juga membagi ilmu ke dalam kategori fardhu ain dan fardhu kifayah. 

Ilmu fardhu ain adalah ilmu yang wajib dikuasai oleh setiap muslim tanpa terkecuali, tidak peduli ia belajar di lembaga yang berbasis umum atau agama, bekerja di bidang umum atau agama, semuanya wajib menjadikan ilmu-ilmu ini sebagai prioritas utama untuk dipelajarinya. 

Ilmu fardhu ain secara ringkas menurut al-Ghazali adalah ‘’ilmu tentang bagaimana tatacara kita menjalankan kewajiban kita’’, Bagaimana kita menggugurkan kewajiban kita sementara ilmu teori dan praktiknya tidak kita punya?. 

Paling tidak ada tiga ilmu yang wajib kita ketahui yaitu ilmu akidah, ilmu fiqih, dan ilmu akhlak. Contoh paling aplikatif adalah ketika kita wajib untuk sholat, maka wajib bagi kita mempelajari semua hal terkait sholat, mulai dari syarat, rukun, hal yang membatalkan, dan lain sebagaianya. Begitupun dengan puasa, zakat, dan ibadah lain sebagainya yang masuk dalam kategori wajib bagi setiap personal kita.

Sedangkan kategori yang kedua, ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang tidak semua orang wajib mempelajarinya. Kewajiban mempelajari ilmu ini gugur jika sudah ada sebagian orang yang mempelajari, tidak harus semuanya. Termasuk dalam ilmu ini adalah ilmu non-syariah yang berguna untuk kemaslahatan dunia seperti ilmu politik, kedokteran, pertanian, dan juga detail ilmu syariah semisal ilmu ushul fiqh, musthalah hadis,  dan ilmu semisalnya yang tidak wajib diketahui oleh semua orang.

Yang menjadi catatan penting di sini adalah, sering kali dengan sadar atau tanpa sadar kita menjadi lebih mengutamakan ilmu-ilmu yang fardhu kifayah ketimbang ilmu fardhu ain. Kita merasa wajib tahu tentang kajian-kajian yang sebenarnya tidak wajib untuk kita ketahui, tapi di sisi lain kita mengabaikan banyak hal dasar yang wajib kita kuasai. 

Kita patut prihatin menyaksikan sebagian orang tua lebih memilih membayar mahal untuk les matematika anaknya dibanding membayar murah guru les agama, dan kita sendiri kadang lebih bangga meghafal teori politik dan sosial entah siapa empunya dari pada menghafal rukun wudhu ada berapa dan yang membatalkan wudhu itu apa saja, kita hafal semua anggota the Avenger tapi lupa siapa saja nama nabi dan rasul yang wajib diketahui, dan masih banyak deretan fakta keprihatinan kita lainnya.

Jika bisa diilustrasikan lebih jelas, orang yang lebih mengutamakan fardhu kifayah dari pada fardhu ain adalah seperti halnya orang yang rajin sekali ikut sholat jenazah, akan tetapi tidak pernah melaksanakan sholat lima waktu. Sebuah kebaikan yang tidak sempurna konsepnya maka pasti terlihat tidak baik.

Sebuah konsep yang perlu diluruskan adalah bahwa tidak ada salahnya sama sekali ketika kita mengerjakan hal yang fardhu kifayah, bahkan menjadi hal yang amat baik ketika kita memiliki andil besar dalam sebuah masyarakat dengan jalan mempelajari atau melakukan hal yang bersifat fardhu kifayah. Akan tetapi perlu diingat bahwa kita juga memiliki kewajiban yang bersifat personal yang perlu kita selamatkan.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, yang bisa membedakan mana hal penting dan mana yang lebih penting untuk kita pelajari demi kemaslahatan kita di dunia dan akhirat nanti.

Wallahu a’lamu bis shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *