SIMBIOSIS MUTUALISME ANTARA MANUSIA DAN LINGKUNGAN Oleh : Ahmad Mahfudzi Mafrudlo, S.Th.I, M.Ag. (Dosen Institut Agama Islam Sukabumi)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”( Al-Qashah:77)

           Sesungguhnya Allah tidak menyukai hambaNya yang berbuat kerusakan di bumi ini, karena dalam penciptaanya Allah tidak hanya menciptakan tetapi juga melihat kesempurnaan ciptaanNya, maka apakah kita melihat sesuatu yang tidak seimbang dengan ciptaanNya?   

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” ( QS 82:7, 67:3)

Allah menciptakan seluruh jagad raya serta isinya untuk melakukan hubungan keterkaitan diantara semua pihak termasuk Sang Penciptanya. Hubungan inilah yang menjadi poin terpenting kita hidup di dunia ini. Sosialisme kehidupan, sosialisme penciptaan, keanugrahan sosial. Dalam keterkaitan itu maka apabila terdapat gangguan pada salah satu pihak maka pihak yang lainpun akan merasa terganggu, dengan terganggunya suatu pihak maka kemungkinan besar terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan.

Maka untuk memelihara terjadinya kerusakan tersebut Allah memberikan amanat khusus kepada manusia sebagai khalifah sekaligus pemakmur alam raya ini, ( Al-Baqarah : 30 ). Dalam kekhalifahan tersebut manusia memiliki amanat mulia untuk menyeimbangkan ekologi alam ini, ekologi yang berubah cepat dan ekologi yang tidak seimbang menyebabakan keresahan pihak lain serta kemarahan Sang Pencipta alam ini.

Dalam pandangan Al-Qur’an kekhalifahan manusia mengandung tiga unsur pokok yang berkaitan satu dengan lainnya, tiga unsur tersebut adalah manusia sendiri sebagai khalifah dan pemakmur, alam raya yang diciptakan oleh Allah sebagai bumi yang kita huni sekarang, hubungan alam dengan manusia sang khalifah ( adakah keharmonisan hubungan diantara pihak khalifah dan alam) hubungan inilah yang menjadi main stream atau platform kekhalifahan. Sesungguhnya yang diamanati haruslah tetap eksis untuk memperhatikan, memakmurkan alam ini, melestarikan, menyeimbangkan ekologi yang telah Allah tugaskan. Dan apabila semua tugas kekhalifahan tersebut tidak terlaksana seperti yang diharapkan maka muncullah kemungkinan-kemungkinan serius terhadap penghianatan amanat mulia tersebut.

Islam adalah agama universal, tidak hanya berdialog dalam hal ideology, sangat memperhatikan kondisi lingkungan dari pertama kali diciptakan sampai akhir umur alam, ini semua karena keterkaitan alam dengan Sang Pencipta. Allah sendiri sangat membenci kerusakan-kerusakan. Belakangan ini kita mendengar isu urgen lingkungan yang sangat meresahkan masyarakat tertentu, kehilangan lingkungan berarti telah hilang kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan, kemajuan serta keberkahan dalam hidup.

Ironisnya masyarakat luas memahami bahwa pemeliharaan lingkungan adalah kewajiban pihak tertentu yaitu pekerja. Ini adalah pemahaman yang sangat keliru. Lingkungan adalah ciptaan Allah yang harus kita pelihara, dia adalah nikmat Allah yang telah diciptakan khusus buat hambaNya untuk dipelihara dan sebagai area untuk beribadah kepadaNya. Inilah pintu ihsan dalam kehidupan serta ihsan dalam kekhalifahan karena ihsan adalah sikap kasih sayang, perhatian, sikap ramah kepada lingkungan dan menjadikan ihsan tersebut adalah ibadah. Wallahu a’lam bishowab

Leave a Reply