SILATURAHIM AKADEMIS Oleh : Ahmad Mahfudzi Mafrudlo, S.Th.I, M.Ag. (Dosen Institut Agama Islam Sukabumi)

Silaturahim merupakan tradisi lama dan sudah ada di masyarakat Indonesia. Tradisi untuk saling berkunjung, bertatap muka dan bercengkerama menjadi akar kebiasaan. Setiap individu dari kita akan mendapatkan manfaat dari silaturahim tersebut. Di setiap pertemuan, obrolan dan tatap muka ketika bersilaturahim akan mendapatkan suatu hal yang baru. Sebaliknya tidak adanya kebiasaan untuk bersilaturahim, kemungkinan tertinggal dari info terbaru yang didapat. Karena silaturahim telah menjadi budaya, akar kehidupan bermasyarakat.  Tidak berlebihan apabila silaturahim sebagai sistem kehidupan dan perilaku bangsa.  

Istilah populer “Silaturahim” merupakan derivasi dari dari bahasa Arab. Yakni Shilah yang artinya hubungan dan Rahim bermakna kasih sayang. Secara terminologi istilah silaturahim adalah aktifitas yang dilakukan manusia dalam bentuk pertemuan, tatap muka dan lain sebagainya. Dengan tujuan untuk mempererat persaudaraan, meminimalisir permusuhan, mendekatkan yang jauh dan sebaliknya. Dalam perspektif  ajaran agama Islam, Nabiyullah Muhammad SAW menganjurkan untuk bersilaturahim, karena dengannya akan menambah rezeki sekaligus umur panjang.

Terdapat beragam bentuk untuk silaturahim. Akan banyak ditemukan perbedaan makna, aktifitas dan kreatifitas dari silaturahim. Berawal dari silaturahim antar keluarga hingga akhirnya menjadi istilah baku dalam setiap acara nasional seperti “Silaturahim Nasional” bisa disingkat dengan “Silatnas”. Beragam bentuk dan aktifitas silaturahim tersebut tidak mereduksi makna, substansi silaturahim diantara individu ataupun kelompok. Tentunya disebabkan oleh faedah dan manfaat yang didapat ketika melakukan silaturahim tersebut.

Ragam bentuk silaturahim tersebut bisa kita temukan di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB. Istilah silaturahim menurut mereka adalah ngejot, biasanya dilakukan sehari menjelang Hari Raya Idul. Ngejot merupakan bahasa Sasak desan Lenek. Jot dalam bahasa sasak artinya datang. Ngejot bermakna berkunjung, mendatangi sanak saudara atau bersilaturahim. Berbeda dengan di desa Lamongan Jawa Timur, ada istilah “Unjung” bermakna serupa dengan istilah silaturahim. Unjung merupakan bahasa Jawa yang artinya berkunjung, mendatangi sanak saudara. Istilah tersebut juga merupakan budaya, kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat di Lamongan setelah Sholat Idul Fitri.

Lain Unjung, lain pula mbarak. Isitlah yang bermakna serupa dengan silaturahim. Isitlah populer yang ada di Ponorogo Jawa Timur ini sama dengan Unjung. Karena dilakukan usai Shalat Idul Fitri. Warga berdatangan ke rumah sanak saudara, tetangga, teman dengan memberikan doa, ucapan selamat dan permintaan maaf.

Berbagai bentuk silaturahim yang dilakukan oleh warga sejatinya tidak lepas dari hasil konstruksi realitas sosial. Konstruksi tersebut dilakukan oleh realitas subyek dan menghasilkan produk realitas obyek. Di lain hal, konstruksi tersebut merupakan produk dialek yang terjadi dan diawali dengan institusionalisasi, habitualisasi dan legitimasi. Peter L Berger menjelaskan bahwa kesepakatan dialektis yang terjadi merupakan proses dari tiga entitas Eksternalisasi, obyektifasi dan Internalisasi.

Beragam bentuk silaturahim yang sudah menjadi budaya wajib oleh warga masyarakat di seluruh nusantara telah menjadi kesepakatan bersama. Karena keyakinan akan banyaknya manfaat yang didapat dan anjuran agama untuk dilakukan. Sejalan dengan makna, proses habitualisasi silaturahim. Telah terjadi pergeseran bentuk dari istilah silaturahim, akan tetapi tidak terlalu signifikan. Bentuk serupa dari silaturahim dengan bertatap muka semakin menipis dengan datangnya teknologi. Sebagian dari kita cukup dengan bersilaturahim melalui sosial media atau gawai pintar. Bertatap muka secara fisik telah terwakili dengan video call dan video conference. Hal tersebut bukan hal yang tabu menurut kalangan akademisi. Hanya berbeda bentuk dari proses dan aktifitas silaturahim. Hanya saja mendapatkan tantangan tersendiri dari pola tersebut. Diantaranya adalah kesalahpahaman ketika menangkap informasi, salah persepsi hingga berujung pada konflik.

Revitalisasi Silaturahim

Sejatinya istilah silaturahim dengan makna dan bentuknya bisa kita revitalisasi ke ranah pendidikan. Revitalisasi silaturahim tersebut juga akan menambah faedah yang didapatkan karena selain bertatap muka, bercengkerama akan mendapatkan wawasan luas, ilmu pengetahuan, perubahan sikap dan mental. Hal tersebut didominasi oleh ilmu yang didapatkan ketika bersilaturahim bersama para ilmuwan. Proses silaturahim antar illmuwan boleh diistilahkan dengan “Silaturahim Akademis”. Pergeseran paradigma silaturahim instan via media sosial bisa terdidik dengan basis konseptual yaitu pendidikan. Bagaimanapun warga yang melakukan silaturahim via media sosial tidak akan menimbulkan konflik.

Silaturahim akademis tentunya tidak akan lepas dari bagaimana peradaban Islam memberikan contok kongkrit bahwa seorang akademisi tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar norma, syariat dalam agama Islam. Dalam silaturahim akademis terdapat substansi dakwah, transformasi konstruktif, transformasi etis sosiologis. Itulah yang akan ditemukan dalam silaturahim akademis ini. Di lain hal ketika menemukan perbedaan pandangan ataupun ideologi, maka landasan normative filosofis dan etis terjaga dalam komunikasi silaturahim akademis.

Dalam konteksi islam silaturahim tidak ada lepas dari komunikasi antar individu meskipun itu via media sosial. Tetap pada landasan konseptual awal bahwa hal tersebut merupakan kegiatan dakwah. Dalam dakwah banyak ditemukan kondisi sosial yang di dalamnya praktik “amar ma’ruf nahi munkar”.

 Media sosial ataupun media massa merupakan medium dakwah, audiens dijadikan sebagai masyarakat binaan. Hal tersebut harus didominasi oleh empat domain yaitu : dakwah, tabligh, amar ma’ruf nahi munkar, dan akhlak (communication, information, change, development and wisdom).

Media bukan sebuah hal yang tabu karena di dengannya bisa membentuk berbagai macam polarisasi. Sebagaimana Dilnawaz A.Siddiqini (2000) mengajukan akuntabilitas metafisik sebagai kerangka produksi berita Islam. Di lain hal Lee Thayer (1968, 1987) menambahkan dalam komunikasi terdapat pesan yang dikonstruksi oleh penerima. Hamid Mowlana juga mengusulkan media sebagai forum pembentuk komunitas dari paradigma keumatan dan bisa berbentuk holistik dan interdisipliner.

Para guru dan siswa-siswi yang setiap harinya melakukan pertemuan di kelas masing-masing, sejatinya mereka telah melakukan silaturahim akademis. Serupa dengan para dosen dan mahasiswa-mahasiswi yang telah melakukan perkuliahan. Komunikasi antar pendidik dan peserta didik telah membentuk komunitas melalui aktifitas silaturahim akademis. Transformasi karakter, wawasan, keilmuan akan terbentuk dengan sendirinya. Karena sejatinya itulah “ruh” yang selalu dibawa oleh pendidik ketika melakukan silaturahim akademis.

Realitas dinamika silaturahim di nusantara tidak akan tereduksi substansinya meskipun telah masuk teknologi modern. Landasan konseptual normative dan empiris dari silaturahim harus tetap dilanggengkan. Disinilah perlunya revitalisasi silaturahim, seperti yang telah ada di silaturahim antar akademisi  yang juga bisa diistilahkan dengan “silaturahim akademis”. Lain hal dengan silaturahim politik yang bias ataupun membawa kepentingan. Silaturahim akademis ini hanya membawa dan dimulai dengan niat yaitu mencari ilmu sebanyak-banyaknya (seeking knowledge) karena Allah SWT. Ilmu juga tidak terdikotomi oleh satu yaitu ilmu agama. Tentunya ilmu agama dan ilmu umum menjadi entitas utuh demi peradaban manusia khususnya umat Islam di nusantara. Wallahu a’lam bishowab

Leave a Reply