METODE, ILMU SOSIAL, DAN SOCIAL HOPE RICHARD RORTY Oleh: Saparwadi, S.Sos.I, MA. (Dosen Institut Agama Islam Sukabumi)

  1. Biodata

Richard Mckay Rorty (1931-2007) adalah seorang filsuf dan intelektual Amerika terkemuka. Diawal karir filosofisnya, Rorty adalah penerus aliran pragmatisme, terutama dari Dewey dan Peirce. Rorty mengikuti Dewey dalam menyerang pandangan-pandangan mengenai pengetahuan, pikiran, bahasa dan kebudayaan dengan pendekatan menarik yang menggambarkan berbagai argumen dan pandangan sejarah filsafat dari sumber yang merentang mulai dari Heidegger dan Derrida sampai dengan Quine dan Wilfrid Sellars.[1]

Rorty menempuh pendidikan tingginya di University of Chicago dan Yale University. Di kedua perguruan tinggi ini Rorty memperoleh banyak hal tentang sejarah filsafat, pragmatisme dan filsafat tradisional yang dominan di Amerika pada pertengahan pertama abad ke-20. Ini juga yang kemudian mengantarkan Rorty memenangkan penghargaan theAllegienceofYoungerPhilosophers. Sejak tahun 1960-an, Rorty mulai mempublikasikan  aritikel-artikel dan reviu-reviu tentang banyak masalah filsafat dari banyak pemikir lainnya seperti Whitehead, Dewey, Royce, Austin dan Wilfrid Sellars dan juga tentang-tentang isu metafisikal yang muncul dari multiplisitas konsepsi-konsepsi filsafat dan metode-metodenya.

  • Pendahuluan

Ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan yang berkembang dengan sangat pesat. Dewasa ini, yang sering disebut sebagai kurun waktu dan teknologi, hampir seluruh aspek kehidupan dipengaruhi oleh keberadaanya. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan lebih lanjut ilmu dan teknologi. Tanggung jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan keilmuan maupun penggunaan ilmu, yang berarti dalam pengembangannya harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bersifat universal, bertanggung jawab pada kepentingan umum, dan kepentingan generasi mendatang. Dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.

Pengertian ilmu dapat juga kita artikan sebagai pengetahuan yang kita gumuli sejak di bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjut dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri: Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu?. [2]

Salah satu ciri khas ilmu pengetahuan adalah sebagai suatu aktivitas, yaitu sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh manusia. Ilmu menganut pola tertentu dan tidak terjadi secara kebetulan. Ilmu tidak saja melibatkan aktivitas tunggal, melainkan suatu rangkaian aktivitas, sehingga dengan demikian merupakan suatu proses. Proses dalam rangkaian aktivitas ini bersifat intelektual, dan mengarah pada tujuan-tujuan tertentu. Disamping ilmu sebagai suatu aktivitas, ilmu juga sebagai suatu produk. Dalam hal ini ilmu dapat diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang merupakan hasil berpikir manusia. Ke dua ciri dasar ilmu yaitu ujud aktivitas manusia dan hasil aktivitas tersebut, merupakan sisi yang tidak terpisahkan dari ciri ketiga yang dimiliki ilmu yaitu sebagai suatu metode. Metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Perkembangan ilmu sekarang ini dilakukan dalam ujud eksperimen. Eksperimentasi ilmu kealaman mampu menjangkau objek potensi-potensi alam yang semula sulit diamati.

  • Ilmu tanpa metode

Galileo merupakan seorang astronom sekaligus filusuf yang telah menghasilkan sebuah penemuan tentang metodologi ilmu pengetahuan. Galileo mampu mengembangkan metodologi ilmu pengetahuan, pengamatan dan dasar kuantitatif. Melihat dari sejarahnya, Galileo merupakan salah satu tokoh yang membawa pengetahuan baru, salah satu penemuannya yang terkenal yaitu ia mengatakan bahwa bumi itu bulat dan planet-planet mengelilingi matahari, penemuan ini juga sekaligus membantah penemuan Aristoteles yang mengatakan bumi itu datar dengan fakta fisis yang dibuktikan dengan ilmu matematika. Bahkan Galileo berpikir bahwa seluruh alam semesta ini diciptakan dengan bahasa matematika. Lepas dari itu, sangat perlu mengetahui hakekat dari matematika dan proses abstraksi di dalamnya. Di dalam proses penelitian, orang-orang seperti Galileo, Descrates dan Newton merumuskan sebuah formula matematis. Dengan kata lain, mereka hendak merumuskan sebuah formula matematis untuk menjelaskan fenomena-fenomena alam. Pengandaian dasar banyak ilmuwan dan filsuf pada masa itu adalah bahwa rumusan-rumusan matematis memiliki keterkaitan langsung dengan hakekat alam semesta. Akan tetapi ada pengandaian yang lebih dasar lagi dari ini, yakni bahwa alam semesta ini adalah tatanan yang teratur dan dapat diprediksi. Hal ini dianggap kemenangan rasio dan metode eksperimental para ilmuwan atas mitos dan dogma religius yang mendominasi pada masa sebelumnya. Rasio, dalam bentuknya yang paling murni, dapat dilihat di dalam logika dan matematika, yang dianggap sebagai hukum alam yang memadai dan komprehensif. Dengan kekuatan yang bersifat murni matematis, hukum alam tersebut akan menentukan gerak seluruh fenomena yang ada di dalam alam semesta.[3]

Pengembangan Galileo mengenai metodologi ilmu pengetahuan, Descrates memahami bahwasanya suatu ilmu pengetahuan dapat diperbaharui memerlukan suatu metode yang baik. Hal ini mengingat bahwa terjadinya kesimpangsiuran dan ketidakpastian dalam pemikiran-pemikiran filsafat yang disebabkan oleh karena tidak adanya suatu metode yang mapan sebagai dasar berdirinya suatu filsafat yang kokoh dan pasti. Ia sendiri berpikir sudah mendapatkan metode yang dicarinya itu, yaitu dengan menyangsikan segala keragu-raguan. Menurut Descrates, jika terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kesangsian yang radikal, maka itulah kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan dasar bagi seluruh ilmu pengetahuan. Maka dari itu muncullah rumusan cogitoergosum, “aku berpikir maka aku ada”. Menurut Descrates perlu adanya perhatian terhadap metode yang hendak dicanangkan. [4]

Perbedaan antara bagian-bagian dari pikiran seseorang yang melakukan dan tidak sesuai dengan realitas, dalam tradisi epistemologi, bingung dengan perbedaan antara cara rasional dan irasional melakukan ilmu pengetahuan. Jika metode ilmiah berarti hanya menjadi rasional di beberapa area penyelidikan tertentu, maka itu memiliki alasan sempurna akal Kuhnt itu berarti menaati konvensi normal disiplinmu, tidak memalsukan data terlalu banyak, tidak membiarkan harapanmu dan mempengaruhi ketakutan kesimpulan kamu kecuali harapan dan ketakutan yang dibagi ke semua orang yang berada di baris pekerjaan yang sama, bersikap terbuka terhadap sanggahan pengalaman, tidak menghalangi jalannya penyelidikan. Dalam arti ini, metode dan rasionalitas adalah nama seimbang yang pantas antara menghormati pendapat dari seorang pengikut dan menghormati untuk sensasi yang keras kepala. Tapi epistemological filosofi pusat menginginkan gagasan tentang metode dan rasionalitas  yang menandakan lebih dari sopan santun epistemik yang baik, gagasan yang menggambarkan jalan dimana pikiran secara alami dianggap mempelajari bahasa alam sendiri.[5]

Rorty menekankan sikap anti-fondasionalismenya dengan mengadopsi ide pragmatisme bahwa aturan-aturan epistemologis pada dasarnya merupakan permasalahan praktik-praktik sosial. Pragmatisme mengganti korespondensi dengan kesepakatan sosial, pengetahuan manusia bukanlah suatu cermin semesta melainkan hasil proses interaksi manusia dan semesta yang legitimasinya tidak berangkat dari kegiatan individual melainkan sosial. Justifikasinya adalah permasalahan praktik sosial karena “bagaimana seseorang mengatakan ini adalah kebenaran tanpa adanya orang lain untuk membenarkannya?” Rorty menekankan prioritas pada publik daripada privasi. Individu tidak memiliki ego transdental yaitu ego yang terlepas berjarak dari sosialitasnya. Individu adalah bentukan komunitas dimana ia tinggal yang menetukan rutinitas, keterbiasaan dalalm menentukan yang benar dan salah. Seperangkat aturan yang telah disepakati secara sosial menjadi tradisi disebut Rorty bentuk-bentuk kehiduapan. Rorty menolak sumber kebenaran ilmu pengetahuan sebagai kebenaran tunggal tentang semesta. Kebenaran harus diukur bukan berdasarkan satu sumber epistemik yang universal dan trasndental melainkan berdasarkan bentuk kehidupan masing-masing komunitas.

Gagasan bahwa bahasa mengontruksi semesta dan bukannya merepresentasikannya tidak sama dengan gagasan Kant bahwa kategori-kategori mengontruksi pengalaman empiris menjadi pengetahun. Ke-12 kategori Kant secara implisit mengandung asumsi semesta sebagai keteraturan yang membuatnya terjebak pada mitos ketererberian semesta. Hal itu tentu saja berseberangan dengan ide Rorty tentang ketersembunyian semesta yang membuka jalan bagi plurallitas bentuk kehidupan. Bahasa merupakan hasil kesepakatan sosial berupa deskripsi yang tidak permanen melainkan berevolusi. Sederhananya ide, kata, dan bahasa buakan cermin yang merepresentasikan semesta melainkan alat untuk  beradaptasi dengan lingkungan komunitas.

  • Ilmu Sosial

Persoalan ilmu sosial yang bebas nilai, secara historis dipelopori oleh Comte melalui positivisme yang mencoba menerapkan metode sains alam ke dalam ilmu sosial. Positivisme ilmu sosial mengandaikan suatu ilmu yang bebas nilai, objektif, terlepas dari praktik sosial dan moralitas.[6]

Akhir-akhir ini terjadi reaksi perlawanan ide bahwa para pelajar lelaki dan masyarakat akan menjadi ilmiah hanya jika mereka tetap setia terhadap model Galilean – jika mereka menemukan nilai-netral istilah deskriptif murni dimana generalisasi prediktif negara mereka, meninggalkan evaluasi untuk pembuat-kebijakan. Hal ini telah menyebabkan kebangkitan gagasan Dilthey bahwa untuk memahami manusia ilmiah kita harus menerapkan non-Galilean, metode hermeneutik. Dari sudut pandang yang terlihat saya ingin menyarankan, seluruh gagasan tentang yang ilmiah atau memilih antara metode yang membingungkan. Akibatnya, pertanyaan tentang apakah ilmuwan sosial harus mencari nilai-netralitas sepanjang garis Galilean, atau bukannya harus mencoba yang lebih nyaman, Aristotelian, dan lebih lembut khususnya metode ilmu-ilmu manusia  kedengaran tersesat buat saya.

Salah satu alasan pertengkaran ini telah dikembangkan menjadi jelas bahwa apapun istilah yang digunakan untuk menggambarkan manusia menjadi istilah evaluatif. Saran yang kita pisahkan istilah dalam bahasa evaluatif dan menggunakan kehadiran mereka sebagai salah satu kriteria untuk ilmiah karakter disiplin atau teori tidak dapat dilakukan. Untuk itu tidak ada jalan untuk mencegah siapapin menggunakan istilah apapunevaluatif. Jika anda bertanya kepada seseorang apakah dia menggunakan represi atau primitif atau  kelas pekerja  normatif atau deskriptif, dia mungkin bisa menjawab dalam kasus pernyataan yang diberikan, dilakukan pada kesempatan tertentu. Tapi jika kamu bertanya kepadanya apakah dia menggunakan istilah hanya ketika dia menjelaskan, hanya ketika dia terlibat dalam refleksi moral, atau keduanya, jawabannya hampir selalu kepada keduanya.  Lanjut – dan ini adalah poin penting  kecuali jawabannya adalah keduanya, itu bukan hanya semacam istilah yang akan kita lakukan secara baik dalam ilmu sosial. Prediksi akan melakukan kebijakan tidak baik jika mereka tidak mengungkapkan dalam istilah dimana kebijakan dapat dirumuskan.

Misalkan kita membayangkan bebas-nilai ilmuwan sosial berjalan ke antara kesenjarangan fakta dan nilai dan menyerahkan prediksi untuk para pembuat-kebijakan yang tinggal di sisi lain. Mereka tidak akan menggunakan banyak kecuali kalau mereka memuat beberapa istilah yang digunakan pembuat-kebijakan diantara mereka sendiri. Apa yang pembuat-kebijakan inginkan, kemungkinan, kaya prediksi yang menarik seperti jika industri dasar disosialisasikan, standari hidup akan atau tidak akan menurun,jika melek huruf tersebar lebih luas, lebih atau lebih sedikit orang-orang akan memilih kantor,dan seterusnya. Mereka ingin seperti kalimat hipotesis yang konsekuen diutarakan dalam istilah yang mungkin terjadi di rekomendasi moral yang mendesak. Ketika mereka mengungkapkan prediksi pada jargon steril terukur ilmu-ilmu sosial (memaksimalkan kepuasan, meningkatkan konflik, dll), mereka salah satu yang dihilangkan, atau lebih berbahaya, mulai menggunakan jargon dalam musyawarah moral. Keinginan untuk baru, interpretatif ilmu sosial tampaknya bagi saya dipahami baik sebagai reaksi perlawanan terhadap godaan untuk merumuskan kebijakan sosial dalam masa yang tipis seperti hampir tidak dihitung sebagai moral sama sekali – hubungan yang tidak pernah jauh menyimpang dari link definisi dengan kesenangan, rasa sakit, dan kekuasaan.

  •     Sosial hope

Dalam tulisan ini, Rorty menyingkirkan gagasan pemikiran tentang “objektivitas” dan “metode ilmiah”. Rorty bisa melihat ilmu sosial sebagai kelanjutan sastra seperti menafsirkan orang lain kepada diri sendiri, dengan demikian memperbesar rasa kebersamaan. Dalam hal ini terdapat dua pemikiran yaitu pemikiran Dewey dan Foucault. Rorty mengajak masyarakat melihat Dewey dan Foucault bukan secara teoritis masalah tetapi atas apa yang diharapkan. Mereka sama-sama mengkritik tradisi. Mereka setuju untuk meninggalkan gagasan tradisional tentang rasionalitas, objektivitas, metode dan kebenaran. Mereka lebih memilih untuk berbicara mengenai hal yang diluar metode. Pada intinya, Dewey dan Foucault membuat wacana-wacana yang dapat menciptakan kekuatan sosial dan solidaritas antar manusia.

  • Kesimpulan

Ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan yang berkembang dengan sangat pesat. Dewasa ini, yang sering disebut sebagai kurun waktu dan teknologi, hampir seluruh aspek kehidupan dipengaruhi oleh keberadaanya. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan lebih lanjut ilmu dan teknologi. Tanggung jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan keilmuan maupun penggunaan ilmu, yang berarti dalam pengembangannya harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bersifat universal, bertanggung jawab pada kepentingan umum, dan kepentingan generasi mendatang. Dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.

Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkinkan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu. Dalam filsafat modern sering ada pertanyaan mengenai bagaimana ilmu pengetahuan telah memiliki banyak keberhasilan? Apa rahasia kesuksesan ini? Berbagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sepele memiliki satu variasi daya tarik tapi sebuah metafora yang tidak terbantahkan: yaitu, ilmu pengetahuan baru menemukan bahasa yang digunakan alam pemikiran itu sendiri. Ketika Galileo berkata bahwa buku alam ditulis dalam bahasa matematika, dia berarti bahwa reduksionistiknya yang baru, kosa kata matematika tidak hanya terjadipada kerja, tapi dia bekerja karenaitu adalah jalan pikiran yang benar-benar ada.

Descartes menegaskan gagasan ini dari ide-ide Galilea yang, untuk beberapa alasan, telah memiliki kebodohan yang diabaikan oleh Aristoteles,Locke, menjelaskanbahwaketidak jelasan ide ini denganapa yang disebutnyasebagaikejelasan. Untuk membuat program ini relevan dengan ilmu pengetahuan saat ini, dia menggunakan sebuah perbedaan sementara antara ide-ide yang mirip dengan objek mereka dan tidak. Perbedaan ini begitu meragukan menurut kita, ide inidijabarkanmelalui Barkeley dan Hume, bahwa kata kuncinya hanya dapat bekerja karena kita memilikinya.

Berdasarkan dari tulisan ini, Rorty menjelaskan tentang metode, ilmu sosial dan social hope dengan melihat pemikiran dari masing-masing keilmuan. Yang menjadi pertentangan dan perdebatan dalam tulisan Rorty ini yaitu pandangan Galileo dan Aristoteles. Dimana Galileo, Descrates, Locke & Kant lebih melihat rasionalitas dan metode dalam ilmu pengetahuan. Sedangkan Aristoteles, Dilthey dan Rorty sendiri lebih melihat kepada hermeunitika atau tata bahasa dalam suatu pengetahuan. Pada akhir tulisannya terdapat socialhope/harapan sosial, dimana mereka sama-sama mengkritik tradisi dan berbicara mengenai hal di luar metode. Mereka membuat wacana yang dapat menciptakan solidaritas antar manusia.


[1] M. Ied Al-Munir. EpistemologiyangMenghermeneutikaMenurutRichardRorty. Volume 8, nomor 1, Juni 2014.hal.105

[2]Jujun S. Suriasumantri,2009, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, hlm.19

[3]Lihat http://mpippsuinmaliki.blogspot.com/2011/04/books-review-aliran-aliran-filsafat-dan.htmlaccest at 1 juni 2018, pukul 23:50.

[4]Juhaya, S. Praja. 2005. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta:Prenada Media, hal.95

[5]Ahmad Syadali, 2004, Filsafat Umum, Pustaka Setia, Bandung. Hlm. 30.

[6]Happy Susanto. Konsep Paradigma Ilmu Sosial. Jurnal Muaddib. Vol. 04, N0.02, Juli-Desember 2014, hal.97

PEMIMPIN DAN MOTIVATOR Oleh : Ahmad Mahfudzi Mafrudlo, S.Th.I., M.Ag (Dosen Institut Agama Islam Sukabumi)

Dunia ini tidak kering dari aktivitas manusia di setiap detiknya. Tidak pernah ada beberapa tempat yang kosong dari aktivitas manusia selain di hutan atau padang pasir. Tetapi kadang masih ada beberapa kelompok atau individu yang sedang bekerja di hutan untuk mencari penghidupan. Karena memang tempat tinggal mereka tidak jauh dari hutan tersebut.

            Aktivitas manusia sekarang tidak memandang apakah itu baik,cocok dari segi norma sosial atau agama itu sendiri. semakin banyak yang kreatif dengan aktivitas yang dikelilingi oleh emosi atau egoisitas individu. Seakan akan emosi manusia yang tak terkendali, berjalan semaunya saja. Manusia sekarang ini memakai celana untuk dipakai diatas kepalanya dan sepatu untuk dipakai tidur. Itulah terbaliknya zaman dan kreativitas manusia sekarang sekarang ini.

            Salah satu contoh empiris di masyarakat yaitu seorang suami yang dengan tega membunuh anak dan istrinya. Selain itu ada seorang anak yang dengan sengaja membunuh ibunya karena alasan tidak suka atas sikap ibunya. Mungkin ada beberapa kasus pembunuhan kecil lain yang  beredar di media massa.

Sesungguhnya kriminalitas di bangsa kita tidak bisa dibendung begitu saja, meskipun telah disiapkan beberapa kompi tentara atau polisi untuk menjaga keutuhan dan kenyamanan masyarakat. Tetapi statemen tersebut bisa dibantah begitu saja, karena di dalam beberapa kelompok manusia masih ada satu atau lebih yang memiliki akhlak dan moral yang tinggi. Tentunya tidak terlepas dari pemahaman dan implementasi ajaran agamanya.

            Solusi pertama mengantisipasi realitas empiris tersebut ada di Agama. Agama bukan hanya sebuah doktrin atau dogma saja. Tetapi sebagai landasan dan pijakan kuat untuk hidup di dunia ini. Esensinya bahwa hidup di dunia ini hanya untuk mengabdi atau menyembah kepada Allah. Hidup di dunia penuh dengan filosofi dan tujuan. Selain itu langkah untuk menjadi hamba yang beragama sesungguhnya terus ditingkatkan. Rasa takut kepada sang pencipta, memahami apa tujuan hidupnya hingga akhirnya faham bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, memegang amanah sebagai kholifah. Implikasi dari framework yang diajarkan agama akan menumbuhkan banyak individu yang faham keimanan dan ketakwaan (being well pious believer). Hingga akhirnya mereka adalah khalifah dan pemimpin diri sendiri ataupun umat Islam secara luas.

Sejatinya pemimpin menjadi solusi setelah ajaran agama yang telah menjadi pandangan hidup setiap umat. Seorang pemimpin tidak bisa selalu didentikkan dengan sang presiden atau lainnya. Tetapi pemimpin bisa dimulai dari pemimpin dirinya sendiri. Seorang pemimpin yang menjadi motivator dalam dirinya kemudian memotivasi para anggotanya. Maka tatkala memahami filosofi kehidupan ini, semua pasti paham bahwa setiap individu dari kita adalah pemimpin dan motivator buat diri kita. Selain itu kita berkewajiban untuk menjadi motivator buat saudara atau teman kita. Motivator disini tidak memandang unsur senioritas. Seorang pemuda bisa saja menjadi motivator dari orang tua dan sebaliknya. Seorang yang beragama Islam bisa menjadi motivator dari agama lain dan sebaliknya. Dan yang terpenting adalah dengan motivator yang baik adalah bukan dari omongan saja tetapi lebih kepada tindakan atau prilaku baik, disiplin, jujur. Seperti apa yang dipraktekkan oleh Rasulullah.

            Seorang pemimpin ala Rasulullah akan menjadikan orang sekelilingnya saudara. Tidak ada jarak yang memisahkan. Tidak ada kata perdebatan sengit yang akhirnya menyebabkan sebuah permusuhan.  Sebagai seorang pemimpin motivator, Rasulullah menerapkan cara memimpin yang Islami. Teori memimpin beliau berbeda dengan pemimpin zaman sekarang. Sudah semakin banyak kita dengar dari media masa bahwa pemimpin sekarang bukanlah pemimpin yang bisa diharapkan menjadi pemimpin professional membawa anggota masyarakatnya menuju apa yang dicita citakan. Karena belum tahu bahwa sesungghnya seorang pemimpin akan diminta pertanggung jawaban kepemimpinannya di hadapan Allah SWT.

            Itulah kategori kecil pemimpin yang berguru pada Rasulullah SAW. Beliau memiliki trik khusus dalam kepemimpinannya. Bijak, ramah, ikhlas, adil dan bertanggung jawab,merupakan salah satu sifat kepemimpinan yang sering dipraktekkan oleh Rasulullah. Seorang motivator diri sendiri dan umatnya. Seorang uswah untuk dirinNya dan umatnya. Dilain unsur kepemimpinan yang beliau miliki, tidak lupa bahwa beliau juga menambahkan unsur dakwah dalam kepemimpinan. Dakwah tersebut dipoles sedemikian rupa untuk memberikan dampak positif ke dalam relung kehidupan umatNya.

            Sebuah pesimistis dalam hidup bukanlah ajakan dan ajaran yang sering diungkapkan oleh agama Islam. Tetapi optimisme itulah yang sering dinyatakan oleh Rasulullah sendiri. optimisme memandang bahwa warna warni kehidupan ini pasti ada jalan keluarnya. Menjadi motivator diri sendiri kemudian menjadi motivator untuk teman atau saudara dekat. Itulah kunci jalan keluar menujua hakekat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Selamat Jalan Bapak Demokrasi

Presiden RI ke-3, BJ Habibie, tutup usia. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun Pada tanggal 11 September 2019 tepat pukul 18:05 WIB dan akan dimakamkan tanggal 12 September 2019 Bada Zuhur di Tempat pemakanan Kalibata dengan prosesi Militer.

Selamat Jalan Bapak Demokrasi, jasamu akan selalu dikenang selamanya.

Pra Bimtek Pelatihan Penyusunan RPS tahun akademik 2019 / 2020

Pra Bimtek Pelatihan Penyusunan RPS ini diikuti oleh 25 Dosen Tetap Yayasan dengan narasumber Dr (c). Syahril Akhmad, S.T., M.M selaku Wakil Rektor I IAIS dan Direktur Pendidikan Yaspida dilaksanakan pada tanggal 11 September 2019 di Gedung Rektorat Lt 2 Kampus IAIS Yaspida Sukabumi. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi Dosen dalam penyusunan RPS sebagai salah satu syarat dalam penyampaian materi di dalam perkuliahan. Para Dosen sangat antusias mengikuti kegiatan ini karena dengan mengikuti kegiatan tersebut dapat mempermudah proses penyusunan RPS yang harus dikerjakan oleh masing-masing Dosen.

Seminar Nasional Ekonomi Syariah

[pl_row]
[pl_col col=12]
[pl_text]

Institut Agama Islam Sukabumi (IAIS) pada tanggal 05 September 2019 yang bertempat di gedung Auditorium Kampus IAIS Jalan parungseah No 43 Km 4 Desa Cipetir Kecamatan Kadudampit Kab. Sukabumi, Jawa Barat menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia” dengan narasumber Guru Besar UIN Bandung Prof. Dr. KH. Juhaya S. Praja, M.A

Seminar ini diikuti oleh seluruh civitas akademik Institut Agama Islam Sukabumi baik karyawan, dosen, dan mahasiswa, serta tamu undangan yang menjadi peserta seminar antara lain dari Bank BNI Syariah, Bank Muamalat, Bank SinarMas Syariah, Universitas Azzahra, dan perwakilan mahasiswa se kota/kab Sukabumi.

Materi yang disampaikan mengenai sejarah ekonomi syariah dari zaman Nabi Muhammad SAW sampai yang harus diperjuangkan zaman sekarang. Mulai adanya pergeseran pemikiran dari ekonomi konvensional menuju ke ekonomi syariah.

[/pl_text]
[/pl_col]
[/pl_row]

Prospek Lulusan

FAKULTAS TARBIYAH

  1. PROGRAM STUDI : MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI)
  2. Kepala Sekolah
  3. Personalia
  4. Staf TU dan administrasi
  5. Konsultan Pendidikan
  • PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN GURU MANDRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
  • Guru MI dan SD Islam;
  • Peneliti Lembaga Pendidikan MI dan SD Islam;
  • Fasilitator dan Pelatih di berbagai Pelatihan Pendidikan MI dan SD Islam;
  • Penulis buku-buku Pendidikan MI dan SD Islam.
  • Pengelola lembaga atau unit bidang Madrasah Ibtidaiyah
  • PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI (PIAUD)
  • Guru TK
  • Tutor Anak Usia Dini
  • Guru Anak Berkebutuhan Khusus
  • Pekerja Sosial
  • Kepala Sekolah Playgroup
  • Konselor Anak
  • Direktorat PAUD
  • Pemilik Usaha Bidang Edukasi Anak Usia Dini
  • Pemilik Usaha Tempat Bermain Anak

FAKULTAS DAKWAH

  1. PROGRAM STUDI : BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (BKI)
  2. Guru BK
  3. Bekerja di Pusat-pusat Rehabilitasi
  4. Menjadi entrepreneur atau wiraswasta
  5. Akademisi
  6. Pekerja pekerja sosial dan penyuluh berbasis Islam
  • PROGRAM STUDI : KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI)
  • Wartawan/Reporter
  • Penulis
  • Editor
  • Fotografer
  • Public Speaker
  • Presenter
  • Penyiar
  • Kameramen
  • Scriptwriter
  • Sineas

FAKULTAS USHULUDIN

  1. PROGRAM STUDI : ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR (IAQT)
  2. Kader ulama ahli tafsir Alquran
  3. Mubalig dan dai yang menguasai ilmu Alquran dan sunah
  4. Peneliti dan penyuluh agama

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

  1. PROGRAM STUDI : EKONOMI SYARIAH
  2. Lembaga keuangan bank, maupun lembaga keuangan bukan bank, baik berbasis syariah maupun non-syariah.
  3. Ahli ekonomi atau ekonom yang memiliki ilmu ekonomi syariah.
  • PROGRAM STUDI : PERBANKAN SYARIAH

Ø Lembaga-lembaga keuangan berbasis syariah yang berdiri seperti bank muamalat, pegadaian syariah, BMT, asuransi syariah serta bank konvensional versi syariah seperti Bank Mandiri Syariah, Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah, Bank BCA Syariah, Bank BTN Syariah, dan yang lainnya. Posisi customer service, teller, audit, staf, manajer, dan lain sebagainya

Ø Peneliti di bidang kajian perbankan syariah

Ø Wirausahawan di bidang keuangan syariah, atau menjadi PNS di Kementerian Keuangan atau  Kementerian Agama

Ø Bekerja di bank konvensional.

Ø Manajemen trainee, dan lain-lain.

  1. PROGRAM STUDI : EKONOMI SYARIAH
  2. Lembaga keuangan bank, maupun lembaga keuangan bukan bank, baik berbasis syariah maupun non-syariah.
  3. Ahli ekonomi atau ekonom yang memiliki ilmu ekonomi syariah.

Institut Agama Islam Sukabumi (IAIS) berdiri pada tanggal 23 Februari 2017 ditandai dengan dikeluarkannya SK DIKTIS No 1147 Tahun 2017 mengenai izin operasional Institut Agama Islam Sukabumi.

Institut Agama Islam Sukabumi terdiri dari 4 Fakultas dan 8 Program Studi.

  1. Fakultas Ushuludin: Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
  2. Fakultas Tarbiyah: Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, dan Manajemen Pendidikan Islam.
  3. Fakultas Dakwah: Program Studi Bimbingan Konseling Islam, dan Komunikasi Penyiaran Islam.
  4. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam: Program Studi Ekonomi Islam, dan Perbankan Syariah.