LPPM IAIS Adakan Pembinaan Santri Overseas Yaspida Sukabumi

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Sukabumi (IAIS) mengadakan pembinaan santri overseas Yaspida dalam layanan bimbingan dan konseling bertempat di gedung auditorium lantai 3 kampus Institut Agama Islam Sukabumi Minggu, 03 November 2019.

Pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Ibu Erni Johan,M.Pd salah satu dosen Institut Agama Islam Sukabumi. Tujuan dari adanya kegiatan ini adalah pengembangan dini siswa kearah yang lebih optimal. Karena dalam acara ini akan diberikan pembinaan secara berkesinambungan mengenai bimbingan pribadi, sosial, karir dan belajar agar para siswa khususnya siswa overseas memahami bagaimana sesungguhnya tantangan hidup kedepan. Sehingga mereka dapat mempersiapkan bekal sejak dini baik dari segi kepribadian, hubungan social, karir dan ilmu.

AYAH DAN IBU DALAM SUJUDKU Oleh : Erpina

Ilustrasi

Mereka malaikat tanpa sayap bagiku, begitu mulia, derap langkahnya dari pagi buta hingga  menjelang petang bahkan larut malam. Betapa dzolimnya diriku jika tidak sedikit pun mengingat keringat keluh kesahnya.

Engkau manusia biasa, tapi bagiku, adalah manusia terhebat yang paling berjasa mewarnai romantika hidupku. Rela berkorban demi kebahagiaanku, kasih sayangnya tanpa meminta balas budi kasihnya, sepeser pun tak meminta jatahnya.

Memikul tanggungjawab menyembunyikan beban deritanya, demi mengais segurat senyum manis indah untuk anak buah hatinya. Berat sebesar beban yang kau pikul tapi tawamu tak pernah pudar dari perjuanganmu.

Ayah, ibu, semua nasihat mu begitu teringat jelas melekat di sanubariku. Mengingat semua akan jasa dan pengorbananmu menjadi senjata semangat yang menghatam dan merobek rasa malasku. Kelak janjiku padamu, kan ku angkat martabat nama baik mu. Dalam sujudku, ada butiran tetesan air mata doa terselip namamu, semoga Allah selalu melindungi setiap langkahmu. ;�Z��

IBU PENERANG KEHIDUPAN Oleh: Iqbal

Ilustrasi

        Saya lahir dari pasangan sah Rahmadhan Djaldi dengan Yati Mulyati anak ke 2 dari 3 bersaudara. Yusuf Reyhan Alrazzaq, Fauzan Iqbal, dan Kavita Tririzkita. Fauzan yang artinya “kebahagiaan” dan Iqbal artinya “penerima” digabungkan menjadi penerima kebahagiaan Nama yang sangat indah yang menyejukan hati ketika di sebutkan. Beliau adalah malaikat kehidupan ketika saya terpuruk, matahari ketika gelap, sinar bulan ketika malam, penyejuk ketika   panas .

        Tidak dapat di ungkapkan semua gambaran beliau dengan kata-kata, tatapan mata seutuhnya dan ucapan dari mulut ini. Ibuku pernah berkata ” jangan banyak mengeluh karena allah tidak akan membebani hambanya diluar kemampuannya, jangan pergi ketika ada yang membutuhkan karena mungkin itulah yang menjadi penolong dunia dan akhirat, jangan sombong ketika sukses karena tanpa mereka hidupmu tidak akan seperti sekarang ini dan masih banyak lagi. 

      Ibu kau kelihatan sangat sederhana tapi sebenarnya hatimu sangat kaya, dandananmu sangat tapi karena hati dan akhlak mu terlihat sangat cantik walaupun umur sudah tua. 

Aku bersyukur mempunyai pahlawan tanpa jasa dalam hidupmu ini. Ibu kaulah manusia yang sempurna dalam kehidupan ini.

PAHLAWAN SEJATI Oleh: Gita Sania

Sosok manusia yang sangat kucintai di dunia ini adalah kedua orang tuaku. Beliau berdua adalah pahlawanku. Dua sosok manusia yang begitu tabah, tangguh, pekerja keras, dan tak mudah putus asa. Sosok yang begitu berarti dalam hidupku. Tak ada yang bisa menandinginya. Beliau berdua adalah inspirator utamaku dalam segala hal. Ayahku bernama Ahlan, dan ibuku bernama Isap.

Keduanya mengajarkan tentang segala sesuatu. Mengajarkan arti penting kehidupan ini. Mengajarkan akan pentingnya kerja keras. Mengajarkan agar tak mudah menyerah. Mengajarkan agar selalu mengingat-Nya. Itulah beliau, sosok yang selalu kurindukan setiap kehadirannya. Mereka mengajari aku dan kakakku tanpa mengenal lelah.

Ayahku hanyalah seorang pedagang. Hanya tamatan SD. Hidup dalam kesederhanaan. Kesehariannya hanyalah berdagang, Pergi mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga, istri dan anak-anaknya. Tak pernah aku melihatnya mengeluh apalagi sampai bermalas-malasan. Bahkan, sakit pun beliau tak pernah rasakan. Beliau sanggup menahan itu semua demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.

Ayahku bukanlah seorang ustadz atau ahli agama, tetapi beliau mampu mengajarkan kami bagaimana caranya agar kami bisa selalu mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Beliaulah yang mengajarkanku untuk selalu bekerja keras. Beliau mengajarkanku agar terus berjuang menggapai mimpi dan tak mudah menyerah. Beliau mengajarkanku agar jangan sampai lari dari masalah, sesulit apa pun itu masalahnya.

Ibuku tak kalah hebatnya juga di samping membantu sang ayahku berdagang dan kerja sebagai ibu rumah tangga,  Mencoba mengumpulkan uang perbulannya demi menyekolahkan kami selaku anak-anaknya. Belum lagi tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu yang begitu banyak. Seperti, mencoba memberikan nasihat dan teladan kepada kami selaku anak-anaknya untuk terus belajar dan mengingat Tuhan.

Sungguh pengorbanan yang tak bisa aku gambarkan secara sempurna dengan kata-kata. Aku sangat bersyukur dan bahagia punya seorang ibu seperti beliau. Tentu, rasa cintalah yang menggerakkan itu semua. Aku sendiri banyak sekali belajar arti dan makna sebuah pengorbanan dan cinta dari ibuku sendiri. Itulah mengapa aku katakan, bahwa orang tuaku adalah pahlawanku.

Hari demi hari, baik ibu maupun ayahku terus mengumpulkan uang. Sama sekali tak ada kata mengeluh. Yang ada di pikiran beliau berdua, bagaimana agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Persoalan finansial bagi beliau berdua bukanlah sesuatu hal yang susah didapat, asalkan kami selaku anak-anaknya tetap mau menuntut ilmu.

Suatu waktu beliau mengatakan kepada kami, cukuplah ayah dan ibumu ini yang hanya lulusan SD, kalian harus bisa lebih dari kami. Kalian harus menuntut ilmu sampai ke perguruan tinggi. Oleh karena itu, tugas kalian adalah belajar, belajar, dan belajar. Itulah pinta beliau berdua kepada kami suatu waktu. Sungguh mulia. Kini, aku pun bisa melanjutkan keperguruan tinggi ini semua berkat dukungan dan berbagai motivasi dari orang tuaku. Restu dari beliau berdua terus kupinta, agar apa yang kulakukan selalu mendapatkan ridho dari Sang Ilahi. Doa demi doa pun beliau panjatkan agar kami anaknya terus diberkahi atas apa yang kami usaha dan kerjakan. Beliau berdua selalu mendukung setiap langkah kami. Apa pun itu, semasih dalam hal kebaikan dan demi kebaikan. Beliau berdua merupakan pahlawanku yang sesungguhnya, sang inspiratorku.

Motivator Handal Oleh: Habibah

Siti Habibah, kado indah “nama” dari seorang Ibu. Dialah sosok ibu yang sangat kuat dan penuh semangat. Ani Haryani orang memanggilnya. Beliau lahir dan besar di Bogor, tepatnya 03 Juni 1980. Beliau menikah dengan seseorang yang aku panggil ayah, bernama Abdul Rahman. Dari perkawinannya, beliau mempunyai empat orang putri yang cantik jelita dan menggemaskan. Siti Habibah, Siti Layla Nur Azizah, Siti Husniyah Aqidah dan terakhir Siti Hafsoh Fashohat.

Dialah wanita yang mulia dan paling berjasa dalam hidupku, mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, merawat hingga aku tumbuh menjadi dewasa. Dialah Ibu yang terus ku sayangi, taburan cinta kan terus bersemi sepanjang hidup ku ini. Sifat kuat dan pantang menyerah melekat dipribadinya. Rambut hitam bergelombang, kulit sawo matang warnanya, matanya indah bulat bercahaya, dan senyumannya indah menentramkan jiwa anak putrinya.

Memasak keahliannya, ketagihan keluarga disaat menyantapnya, sesekali saya  pulang kampung dari Pondok Pesantren tercinta, ibu pasti memasak makanan favoritku, sayur sop dan daging ayam kecap.

Ibuku wanita yang kuat, tangguh, pantang menyerah, tak pernah putus asa, penyabar wibawanya. Tabah menjalani kehidupan, bersemangat dalam menghadapi kenyataan.

Aktifitas pagi mengantar anak-anaknya bersekolah, jarak yang begitu lumayan jauh bukan masalah, ibu tetap semangat, dan tidak pernah terucap kata lelah ataupun kesah. Ada harapan besar pada semangat Ibu,  anak-anaknya mesti menjadi seseorang yang sukses dan lebih baik dari dirinya.

Dialah motivator handal. Tak pernah bosan mengucurkan kasih sayangnya,  tak ada masalah yang berarti selama ibu disampingku, disaat sakit menghampiriku ibu tak jauh dariku. Ibu selalu menuangkan kekuatan untukku. Dia wanita terhebat tanpa menampakan lelah, cape maupun sedih.  Yang terpancar hanaya kegembiraan dan bahagia di hadapan putri-putri tercintanya.

HORMATI MEREKA Oleh : Widiastri

Ibu adalah sosok yang paling dan sangat berperan dalam kehidupan tiap insan, tanpa ibu kita tidak akan pernah berpijak diatas muka bumi ini. Ibu adalah malaikat yang tuhan ciptakan tanpa sayap,  ia adalah sosok paling sempurna di dunia ini, karna sosok seorang ibu mampu menjadi apapun disaat kita membutuhkannya. Ibu adalah tempat yang paling tepat untuk mencurahkan segala keluh kesah, ia bagaikan sahabat yang akan menemani dimanapun kapan pun dan dalam situasi apapun.

Berbicara tentang sosok ibu tentu tidak akan ada habisnya cinta dan kasih sayang seorang ibu tak akan pernah tertandingi oleh apapun, ia mampu menjelma menjadi apapun demi kebaikan anaknya sendiri. Berbicara tentang jasa seorang ibu, maka tidak lupa juga dengan jasa seorang ayah.

Ayah adalah sosok pria yang hebat yang mencari nafkah demi menghidupi keluarganya. Iya rela mengorbankan seluruh tenaganya hanya untuk membuat keluarganya merasa tercukupi, iya bekerja siang malam tanpa mengenal rasa lelah hanya untuk membahagiakan keluarganya. Sungguh besar pengorbanan seorang ayah dan ibu, mereka mampu berpura2 tertawa hanya untuk melihat anaknya bahagia, mereka mampu mengirbankan perut kosongnya hanya untuk melihat anaknya makan dengan kenyang. Tak ada batasnya jika kita berbicara tentang orang tua, maka hina lah bagi orang yang tidak bisa menghargai dan menghormati kedua orang tuanya.

MALAIKAT ITU BERNAMA IBU Oleh Rahayu

Ilustrasi

Namaku Rahayu Putri, memiliki sesosok malaikat yang sangat luar biasa, dialah ibu.

Wanita yang tangguh, pantang menyerah, dan juga penyabar. Berasal dari keluarga yang pas-pasan. Selalu mengalah tentang semua hal dengan kakak-kakaknya. Beliau hanya lulusan SD, tapi bagiku beliau melebihi sarjana. Cara berfikir, bertindak, dan bersikap membuatku terkagum-kagum. Konon beliau mengorbankan karir pendidikannya karena keterbatasan dalam ekonominya.

Sejak kecil, beliau sudah rajin bekerja, membantu orang tuanya dalan berbagai hal. Beliau membuatku terinspirasi dalam menghadapi segala apapun yang halangan rintangan dalam perjalanan hidupku.

Dalam hidupku, dialah ibu sang mutiara yang sangat ku cinta dan dan sayangi. Profesi sebagai ibu rumah tangga dengan tingga orang putra, Rahayu Putri anak kedua, Dede Komarudin anak pertama sedangkan anak terakhir bernama Saleh Abdallah.

Pekerja keras dan pantang menyerah. Penuh kesabaran dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya.  Status sebagai single parent setelah ditinggal suami tercintanya karena meninggal dunia dua tahun yang lalu, ibu tidak pernah mengeluh, selalu bekerja keras demi masa depanku demi anak buah hatinya.

Kakakku sudah berkeluarga dan sudah memiliki pekerjaan yang layak, tapi ibu tidak pernah mau berpangku tangan mengharap belas kasihan kepada sang kakak. Ibu tetap ingin bekerja keras meskipun kakak saya berulang kali melarangnya. Prinsipnya pekerjaan apapun beliau jalani selama itu baik dan halal.  Beliau lakukan demi keluarga yang beliau sayangi dan cintai. Saya sangat beruntung mempunyai ibu sepertinya.

Kini ku duduk di bangku kuliah,  ibu tetap mencurahkan kasih sayangnya dengan selalu menyemangatiku, beliau menjadi motivator terbaik dalam hidupku. Kadang aku mengeluh, ingin keluar dari bangku perkuliahan, bukan karena tidak mau lagi belajar, tetapi karena melihat keadaan ekonomi keluarga, saya tidak mau, terus membebani ibu dengan biaya cukup besar,  hanya sebatas ibu rumah tangga, tetapi dengan tegasnya ibu berkata “ibu mampu nak, selagi kamu mempunyai kemauan, untuk belajar pasti Allah memberikan jalannya, ibu tidak mengharap balasan materi darimu, yang ibu minta hanya satu jadilah manusia yang bermanfaat, bisa mengharumkan nama keluarga, dan menjadi bintang yang bersinar”. Kata-kata itulah yang selalu terngiang dan menjadi alasan saya bertahan sampai detik ini dan ingin membuktikannya suatu saat nanti. Itulah tekadku.

Ibu motivator terbaik dan inspiratif dalam jiwaku. Satu saat ibu pernah atau bahkan sering memarahiku, karena beliau sayang kepadaku, beliau berharap agar aku menjadi orang yang lebih baik lagi.  Nasihat dan teguran darinya sangat berarti dan sumber inspirasi untuk melangkah lebih jauh ke depan. Tekadku mengejar mimpi yang ingin ku wujudkan bersamamu. Masih ada kebahagiaan yang ingin kubagikan denganmu. Serta masih ada ribuan cerita yang ingin aku sampaikan kepadamu. Oleh karena itu Ibu, kini biarkan aku berjuang mewujudkan itu semua dan semua mimpi beserta harapanmu, dulu yang engkau korbankan demi pertumbuhanku. Izinkanku membawamu kedalam keindahan dunia yang belum pernah engkau lihat karena pengorbananmu kepadaku.

Ibu, tunggulah sebentar lagi. Ribuan doa kusampaikan kepada Allah SWT agar engkau senantiasa diberi  perlindungan, dan kesehatan dalam hidupmu. Izinkanlah Aku untuk menjadi anak yang dapat membahagiakan mu. Ibu, tentu aku tahu itu semua belum cukup membayar pengorbananmu selama aku bertumbuh. Namun setidaknya, melalui perjuangan dan air mataku ini, Aku berucap kepadamu terima kasih Ibu engkau adalah sosok malaikat yang takkan tergantikan oleh siapapun di hidupku. (01 Okt 2019)

MALAIKAT TAK BERSAYAP -oleh Siti Aisyah-

Ilustrasi: Malaikat Tidak Bersayap

Aku adalah anak dari seorang Ibu. sembilan bulan dalam kandungannya. Begitu sayangnya menjaga janinnya tanpa mengeluh kesah kesakitan. Disaat kandungannya mulai membesar, sesekali Ibu mengusap perutnya, sebagai janin ada rindu yang terpatri, ada cinta yang tertanam,  rasa kasih sayang terus bergelora menunggu datangnya si buah hati.

Saat tiba waktu, dimana Ibu diambang diantara hidup dan mati. Rasa takut dan khawatir menghantui dirinya. Karena detik itu, akan melahirkan anak pertamanya. Ketika terdengar suara tangisan si buah hati, hanya rasa suka cita bahagia bercampur haru. Rasa sakit pun sirna entak tak dirasa.

Ibu selalu tersenyum disetiap waktu, mengerjakan aktifitasnya tanpa mengeluh, bosan serta lelah. Karena lelah dan bosan Ibu hanya bisa terobati oleh senyum si buah hati. (01 Okt 2019)

CITA-CITA BUKAN HANYA SEKEDAR MIMPI

من جدّ و جد
“Man Jadda Wa Jada”

by: Nusantari Fitriani, S. Pd. I, M. Pd (Dosen Institut Agama Islam Sukabumi)

nusantari.fitriani@gmail.com

Pagi, siang, sore, malam dan kembali pagi lagi, itulah perputaran waktu disepanjang hari yg takkan berakhir sampai akhir itu datang pada saat yg telah diatur oleh sang Maha Kuasa.

Tiada pernah makhluq dimuka bumi ini sedikitpun terlepas dari rintangan, cobaan, baik itu dalam cobaan yg menyenangkan atau pun cobaan yg sangat menyedihkan. Namun wajib bagi diri untuk selalu Ridlo akan Qodlo’ dan Qodar Alloh Ta’alaa sebab ianya merupakan salah satu rukun Iman yg wajib diketahui oleh setiap Muslim Muslimaat sekalian.

Terkadang saat gundah akan dunia yg fana ini, ada sebuah doktrin positif yg dapat di cerna oleh hati dan fikiran. Semua itu, karena diri tetap yaqin terhadap janji2 Alloh SWT insya Alloh jika telah saatnya ianya akan dapat diketahui dengan sebenar-benarnya.

Pelajaran hari ini:

“Tetap tanamkan “HUSNUDHON” tanpa “SU’UDHON”, karena penyakit ‘AIN (penyakit hati)itu lebih berbahaya daripada penyakit “HIV” namun wajib prihatin, bersabar dan berdo’a insya Alloh ada jalan dan barokah. Sholluu ‘alan Nabiy, Laa haula walaa quwwata illaa billaah. . .”

Sebagai seorang hamba yang bertaqwa hendaklah senantiasa berprasangka baik terhadap sang Kholiq. Jangan pernah merasa semua akan berakhir sia-sia dan tak ada gunanya, ahsan kita segera memperbanyak beristighfar kepada Alloh Ta’alaa. Astaghfirulloohal ‘adhiim…

Jika didalam diri kita telah memiliki keyaqinan yang kuat atau “Haqqul Yaqin” in sya Alloh apapun yang akan terjadi dan berusaha menghalangi diri untuk mencapai pada sebuah impian mampu kita hadapi dengan jiwa yang stronger dan tak mudah putus asa. Terlebih-lebih lagi bagi seorang pelajar yang memiliki cita-cita yang sangat tinggi nan luhur, bahkan hal tersebut memang dianjurkan bagi seorang pelajar dalam bertholabul ‘ilmi. Jadi, dapat diketahui hendak dibawa kemanakah dirinya setelah usai meninggalkan bangku sekolah?, nah…hal tersebutlah yang mulai detik ini harus difikirkan dengan matang dan segera membuat program kedepan untuk kemajuan dirinya dimasa depan.

فانّ المرء يطير بهمّته كالطير يطير بجناحيه

“sesungguhnya seseorang akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan dua sayapnya”.

Abu Thayyib berkata (A. Ma’ruf Asrori: 53)[1] berkata:

“cita-cita akan tercapai sejauh orang-orang akan bercita-cita. Kemuliaan akan tercapai sejauh seseorang berbuat mulia”

“Sesuatu yang kecil akan tampak besar bagi orang-orang yang bercita-cita kecil. Dan sesuatu yang besar akan tampak kecil bagi orang-orang yang bercita-cita besar”.

Modal untuk mencapai segala sesuatu adalah kerja keras dan cita-cita luhur.

Diuangkapkan pula, bahwa Abu Hanifah pernah berkata kepada Abu Yusuf (A. Ma’ruf Asrori: 54):

“kamu bukanlah orang yang cerdas, tetapi kamu bisa mengatasinya dengan rajin belajar. Hindarilah kemalasan, karena kemalasan adalah sesuatu yang buruk dan akibat buruknya juga sangat besar”.

Salah satu efek buruk bagi orang yang pemalas adalah penyesalan dikemudian hari dan cita-cita yang tak terwujud. Ada ungkapan, bahwa rasa malas itu disebabkan oleh kurangnya penghayatan terhadap keutamaan dan kelebihan ilmu.

Rasa malas kadang-kadang ditimbulkan oleh dahak dan lemak di dalam tubuh yang disebabkan karena banyak makan. Dahak disebabkan oleh banyaknya minum, banyak minum disebabkan oleh banyaknya makan. Makan roti kering dan anggur kering dapat menghilangkan dahak (lendir). Tetapi jangan terlalu banyak, sehingga akan membutuhkan minum, sementara banyak minum akan dapat menambah dahak. Jadi, makan dan minumlah sesuai yang diperlukan oleh tubuh saja agar mampu meminimalisir dahak didalam tubuh.

Cara lain mengurangi makan adalah merenungkan bahaya-bahaya yang timbul akibat banyak makan, yaitu beberapa penyakit dan lemahnya fisik. Juga disebutkan timbul kekenyangan yang mampu menghilangkan kecerdasan.

Itulah sekilas mengenai efek yang ditimbulkan akibat terlalu berlebihan-lebihan dalam makan dan minum. Bukankah kita dianjurkan membagi ruang dalam tubuh kita, yakni sepertiga untuk makan, sepertiga lagi untuk minum dan sepertiga selanjutnya untuk bernafas agar pencernaan didalam tubuh dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar sehingga kita pun akan beruntung terhindar dari rasa malas yang tidak berkesudahan itu.

Ternyata dalam meraih cita-cita yang bukan hanya sekedar mimpi belaka itu tidak lain harus diperhatikan dari hal-hal yang mungkin dianggap remeh dan seolah-olah kecil, namun imbas yang didapat begitu merugikan diri sendiri yang salah satunya adalah banyak makan yang mengakibatkan diri lemah dan bermalas-malasan. Untuk itu, jika ingin meraih cita-cita yang bukan hanya sekedar mimpi tersebut hendaknya lebih berantusias menggapainya, open mind, open heart, open eyes and open kesemua-muanya dalam artian yang positif. Hal tersebut, diharapkan dapat memberikan stimulus dari dalam diri kita agar membangun kesadaran diri untuk segera meraih kesuksesan, baik kesuksesan duniawi maupun kesuksesan ukhrowi yang pada ujung goalnya ialah “bihusnil khotimahin sya Alloh, Alloohumma Aamiin wal qobul…

Selalu ingat 3B untuk meraih cita-cita:

  1. Berikhtiyar (berusaha dengan sungguh-sungguh)
  2. Berdo’a kepada Alloh Ta’alaa agar selalu diberikan jalan kemudahan
  3. Bertawakkal kepada Alloh atas segala Ikhtiyar dan do’a yang telah dilaksanakan dengan tulus.

Moto yang tak lekang oleh waktu “Man Jadda wa Jada” barangsiapa yang besungguh-sungguh pasti akan sukses. Teruslah semangat meraih Rohmat tanpa terpikat oleh ni’mat yang hanya sesaat yaitu “HUBBUD DUNYA” (cinta pada dunia). Akhirul kalam wa ‘afwu minkum.


[1] Etika Belajar Bagi Penuntut Ilmu (Terjemahan Ta’limul Muta’allim)

Pernyataan Rektor Institut Agama Islam Sukabumi

Sukabumi tanggal 23 September 2019, Rektor Institut Agama Islam Sukabumi (IAIS) Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag memberikan pernyataan resmi terkait gerakan mahasiswa yang terjadi akhir-akhir ini dijalan, berikut pernyataannya: “Mahasiswa hendaknya belajar dewasa dan arif menyikapi situasi saat ini. IAIS sebagai lembaga pendidikan tinggi tetap menjalankan tri darma perguruan tinggi, tak terpengaruh oleh gerakan mahasiswa diluar sana”.